Dekat dengan ulama dan patuh pada hukama merupakan salah satu jalan untuk memperoleh ilmu, nasihat, dan hikmah dalam kehidupan. Ulama adalah orang yang memiliki ilmu agama, mengamalkannya, serta membimbing umat menuju kebaikan. Sementara itu, hukama adalah orang-orang bijaksana yang mampu memahami hakikat kehidupan dan berusaha menempatkan segala sesuatu sesuai kebenaran, baik dalam ucapan maupun perbuatan.

Keutamaan Dekat dengan Ulama
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
عَلَيْكُمْ بِمُجَالَسَةِ الْعُلَمَاءِ وَاسْتِمَاعِ كَلَامِ الْحُكَمَاءِ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحْيِي الْقَلْبَ الْمَيْتَ بِنُورِ الْحِكْمَةِ كَمَا يُحْيِي الْأَرْضَ الْمَيْتَةَ بِمَاءِ الْمَطَرِ
“Hendaklah kalian duduk bersama para ulama dan mendengarkan perkataan para hukama (orang-orang bijak), karena Allah Ta’ala menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah, sebagaimana Dia menghidupkan bumi yang mati dengan air hujan.”
Hadis tersebut mengajarkan pentingnya mencari ilmu dan mendengarkan nasihat dari orang-orang yang memiliki pengetahuan serta kebijaksanaan. Sebagaimana tanah membutuhkan air hujan agar kembali subur, hati manusia juga membutuhkan ilmu dan hikmah agar tidak kering, keras, dan kehilangan arah. Dengan duduk bersama ulama, seseorang dapat memperoleh pemahaman yang benar, memperbaiki niat, serta mengetahui cara menghadapi berbagai persoalan berdasarkan tuntunan agama.
Ulama tidak hanya menyampaikan hukum dan pengetahuan, tetapi juga memberikan teladan melalui akhlak dan keteguhan dalam beribadah. Dari mereka, kita belajar bahwa ilmu harus disertai adab, keikhlasan, dan tanggung jawab. Nasihat ulama dapat menjadi pengingat ketika seseorang mulai lalai, sombong, atau terlalu mengikuti keinginan duniawi. Karena itu, majelis ilmu hendaknya tidak dipandang sebagai kegiatan tambahan, melainkan kebutuhan hati yang harus dijaga secara rutin.

Bergaul dengan Orang Bijaksana
Dalam riwayat Ath-Thabrani dari Abu Hanifah disebutkan:
جَالِسُوا الْكُبَرَاءَ وَسَائِلُوا الْعُلَمَاءَ وَخَالِطُوا الْحُكَمَاءَ
“Hendaklah kalian duduk bersama orang-orang besar (mulia), bertanyalah kepada para ulama, dan bergaullah dengan orang-orang bijaksana.”
Dalam riwayat lain juga disebutkan:
جَالِسِ الْعُلَمَاءَ وَصَاحِبِ الْحُكَمَاءَ وَخَالِطِ الْكُبَرَاءَ
“Duduklah bersama para ulama, bersahabatlah dengan para hukama (orang bijak), dan bergaullah dengan orang-orang mulia (terpandang).”
Pesan tersebut mengajarkan pentingnya memilih lingkungan pergaulan. Lingkungan yang baik dapat membentuk karakter, kebiasaan, dan cara berpikir seseorang. Dekat dengan ulama dan patuh pada hukama dapat diwujudkan dengan menghormati guru, bertanya ketika belum memahami ilmu, menghadiri majelis ilmu, serta mendengarkan nasihat yang baik. Kepatuhan kepada hukama bukan berarti mengikuti semua perkataan tanpa pertimbangan, melainkan menerima nasihat yang sesuai dengan syariat, akal sehat, dan kemaslahatan.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat memilih teman yang mendorongnya untuk berbuat baik, menjaga ucapan, dan menjauhi perbuatan yang merugikan. Ketika menghadapi masalah, ia tidak terburu-buru mengambil keputusan, tetapi berusaha meminta pandangan dari orang yang lebih berilmu dan berpengalaman. Sikap mau bertanya bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kerendahan hati dan kesungguhan untuk belajar.

Jangan Menjauh dari Ulama
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
سَيَأْتِي زَمَانٌ عَلَى أُمَّتِي يَفِرُونَ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَالْفُقَهَاءِ فَيَبْتَلِيْهِمُ اللَّهُ بِثَلَاثِ بَلِيَّاتٍ أَوْلَاهَا يَرْفَعُ اللَّهُ الْبَرَكَةَ مِنْ كَسْبِهِمْ وَالثَّانِيَةُ يُسَلَّطُ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا ظَالِمًا وَالثَّالِثَةُ يَخْرُجُونَ مِنَ الدُّنْيَا بِغَيْرِ إِيمَانٍ
“Akan datang suatu masa atas umatku, di mana mereka lari (menjauh) dari para ulama dan fuqaha, maka Allah akan menguji mereka dengan tiga macam cobaan: pertama, Allah mencabut keberkahan dari usaha (penghasilan) mereka; kedua, Allah Ta’ala menjadikan penguasa yang zalim berkuasa atas mereka; dan ketiga, mereka keluar dari dunia (meninggal) tanpa membawa iman.”
Pesan tersebut menjadi pengingat agar umat Islam tidak meninggalkan ilmu dan nasihat para ulama. Menjauh dari ulama dapat membuat seseorang mudah mengikuti hawa nafsu, terpengaruh informasi yang keliru, dan kehilangan pedoman dalam mengambil keputusan. Dekat dengan ulama dan patuh pada hukama juga dapat membantu seseorang membangun akhlak, memperbaiki diri, serta mengambil hikmah dalam menghadapi ujian kehidupan.
Menerapkan Hikmah dalam Kehidupan
Menuntut ilmu tidak cukup hanya dengan mengetahui, tetapi juga perlu diamalkan. Santri dapat menerapkan nilai ini dengan menghormati guru, rajin mengikuti kajian, menjaga adab ketika berada di majelis ilmu, dan mengamalkan nasihat yang baik. Selain itu, ilmu hendaknya digunakan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, sesama manusia, dan lingkungan sekitar.
Hikmah juga tampak dalam kemampuan mengendalikan emosi, memaafkan kesalahan, berbicara dengan santun, serta menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Orang yang dekat dengan ulama dan hukama diharapkan tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu menunjukkan ketenangan, kejujuran, dan kepedulian dalam tindakan. Ilmu yang benar akan melahirkan manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan siapa pun yang berada di sekitarnya.
Pada akhirnya, dekat dengan ulama dan patuh pada hukama merupakan sikap yang dapat membantu seorang Muslim menjaga hati dengan ilmu dan hikmah. Semoga kita senantiasa diberikan kesempatan untuk belajar kepada orang-orang berilmu, menghormati para ulama, mengambil hikmah dari orang bijaksana, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan
Bagikan tanggapan Anda dengan sopan dan relevan terhadap artikel.